Tips How to Conduct PPL Ala Dvluffy

Asslamualaikum, Ohaiyo minna san..
Finally I'm back setelah lama aku meninggalkan blog ini, hehehe.
bagaimana kabar kalian? aku harap semuanya selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT. aku ingin bercerita beberapa hal kepada kalian, ya setidaknya aku bisa membagi pengalamanku serta memberikan beberapa tips kepada kalian. let's get started..
pada tanggal 03 Oktober 2018 akhirnya aku melakukan yang namanya PPL (Praktek Pelatihan Lapangan) yang saya laksanakan di SMP IT IBNU ABBAS Tarakan, selama melaksanakan PPL banyak cerita dan pengalaman yang saya dapatkan, mulai dari managemen kelas, mempelajari sifat para murid, menghargai waktu dan sebagainya.
alhamdulillah sekarang aku telah selesai melakukannya, dan untuk terakhir yang paling berat MEMBUAT LAPORAN, aku merasa akan gila saat membuatnya, nah disini aku akan berbagi tips dengan kalian gimana caranya PPL kalian itu menyenangkan tidak penuh tekanan serta laporan tidak membuat kalian gila di detik-detik pengumpulan.

Tips PPL ala Dvluffy
  1. Beradaptasi dengan lingkungan sekolah adalah hal yang sangat penting kalian lakukan. Saat pengantaran awal kalian harus bisa menilai cara mereka berpakaian, kebiasaan mereka, cara mereka berbicara. saat kalian adalah orang yang bertipe ceria, nga bisa diem (sama kek aku haha) dan kalian mendapatkan sekolah yang mengaruskan kalian less of speak, maka mau tidak mau kalian harus melakukannya.
  2. Keep humble and ramah kepada para guru, siswa serta staff sekolah karena saat kalian bisa mengambil hati mrk, kalian akan dimudahkan saat berada dalam kesulitan.
  3. Be on time, buat kalian yang biasanya bangun siang, usahakan saat melakukan PPL kalian bangun lebih pagi dari biasanya. ya awalnya memang susah tapi kalau dibiasakan nanti bakalan terbiasa kok.
  4. Jangan lupa mempersiapkan RPP dan materi ajar kalian. ini yang sering banyak dilalaikan, karena menurut mereka ini tidak penting, padahal ini adalah sesuatu yang sangat berperan penting saat kalian mengajar agar sesuai dengan waktu yang ditentukan, selain materi yang kita sampaikan berjalan sesuai urutannya, kita juga dapat mengefisienkan waktu.
  5. Jadilah guru yang dicintai oleh murid-murid, jangan terlalu galak, selingi kelas dengan bermain game saat pelajaran berlangsung.
  6. Banyak-banyaklah berdiskusi dengan guru pamong dan dosen pembimbing mengenai materi pembelajaran dan kendala-kendala yang kalian alami saat mengajar.
  7. Ini yang tak kalah penting, mulailah mencicil laporan PPL kalian sedikit demi sedikit, jangan terus menganadalkan SKS, karena laporan PPL ini bukanlah hal yang bisa kalian kerjadakn dengan SKS, ya walaupun kadang banyak yang masih SKS. tapi buat Nakama Dvluffy aku nga nyaranin itu.
  8. Seringlah berkonsultasi dengan dosen pembimbing soal laporan PPl kalian, karenna saya yakin itu akan banyak sekali yang di Revisi.
  9. Usahakan tidur siang walaupun hanya 15 menit. dan tidurlah pada pukul 09.00 karena itu bisa membuat kalian bangun dengan fresh dipagi hari, karena saat PPl itu akan memakan banyak waktu istirahat kalian, jadi saat kalian menemukan waktu yang bisa buat kalian untuk tidur siang maka tidurlah,
  10. Yang terakhir jangan lupa makan, asupan gizi kalian lebih penting buat nambah daya tahan tubuh :) 
Itulah tadi 10 tips PPL ala Dvluffy aku harap dapat membantu kalian yang akan melaksanakan PPL, semangat buat kalian semua.
Salam Mahasiswa.

Sincerely
Vingki_Dvluffy

My Cerpen_Think Of You

                Kau datang disaat musim semi pertama, aku tidak percaya kau berdiri didepanku saat ini, aku pikir kita tidak akan bertemu lagi, apakah ini yang dinamakan takdir atau sebuah kebetulan?
Jakarta 11 oktober 2014
Kupandangi foto kedua orang tuaku dengan berlinangan air mata, aku seorang gadis yang akan menempuh perjalanan jauh kenegeri matahari terbit demi mencapai cita-cita.
“diberitahukan kepada penumpang sekalian bahwa pesawat garuda indonesia dengan tujuan Kansai airport Japan sepuluh menit kedepan akan segera berangkat” .Aku segera mengusap air mataku, aku tidak boleh menjadi cengeng, karena ini demi masa depan ku dan keluargaku.
 Aku lahir dari keluarga yang sangat sederhana, ayahku hanya seorang guru dan ibuku membuka toko kecil-kecilan dirumah. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, kedua adikku masih berada ditingkat sekolah dasar. Saat ada program beasiswa keluar negeri aku dan kedua temanku terpilih menjadi penerima beasiswa itu. Aku mengambil program kedokteran karna aku berfikir, aku ingin merawat orang tuaku seperti mereka merawatku saat kecil. Betapa bahagianya mereka saat aku mendapat beasiswa itu, sebenarnya aku ragu untuk mengambilnya karna melihat kondisi keluargaku saat ini. Tapi orang tuaku berkata “nak kesempatan itu tidak akan datang dua kali, jika allah telah menunjukmu untuk menerima beasiswa itu berarti itu sudah menjadi takdirmu, sekarang tinggal kamu bagaimana kamu menjalani takdir yang telah allah berikan kepadamu, bapak dan ibu hanya bisa mendoakan semoga kamu bisa menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat”, berkat dukungan dan doa keluarga akhirnya aku berangkat setelah tiga bulan menerima trining bahasa Jepang.
                Aku memasukkan kembali foto itu kedalam dompetku. Dan mencoba untuk memejamkan mata, tak berapa lama aku memejamkan mata pesawat mulai take off meninggalkan bandara Soekarno Hatta, karna ini merupakan penerbangan pertamaku ada perasaan takut menjalar ditubuhku, tanpa sadar aku menggenggam erat tangan penumpang disampingku, setelah kulepaskan genggamanku dari tangnnya. Dia terlihat mengibas-ngibaskan tangannya. Apakah genggamanku terlalu kuat, sehingga membuatnya kesakitan?
“I’m sorry, this is my first flight, so I am little scared” ucapku dengan bahasa inggris yang masih terbata-bata. Dia hanya menatapku dari balik kaca hitamnya tanpa berkomentar dan kembali bersandar dikursi. Aku hanya mendegus, segera ku palingkan wajah dan menatap keluar jendela.Tak berapa lama aku pun terlelap, menjelajahi dunia mimpi.
                Tak terasa pesawat yang kutumpangi telah tiba di bandara Inernasional Kansai Japan tepat pukul 02.00 pm, badanku terasa sakit semua setelah menempuh perjalanan delapan jam dari Jakarta ke Japan, setelah aku dan kedua temanku turun kami menghampiri seseorang yang memegang karton bertuliskan welcome Indonesia, kemudian kami diantar menuju asrama yang terletak dikota Gifu, ternyata perjalanannya cukup jauh. Kami tiba di sebuah rumah yang sangat asri dan tertata. Dia membantu kami mengangkat barang hingga kedalam kamar,  kamarnya cukup luas untuk kami bertiga dengan beberapa fasilitas. Tepat pukul 06.00 pm kami akhirnya selesai menyusun barang-barang seelah menikmati makan malam, kami terlelap dalam mimpi masing-masing. Sekarang perjalanan kita dimulai para penjelajah negeri matahari terbit, percayalah dengan takdir yang telah dituliskan pada jalan hidupmu dan rubahlah menjadi yang lebih baik.
***
                Hari ini aku menjadi mahasiswi baru di Gifu University, salah satu dari universitas tertua diJepang, sedangkan kedua temanku mereka mengambil Fakultas Teknik dan Pertanian. kami diantar keruangan masing-masing untuk memulai mata kuliah. aku masih tidak menpercaya bahwa sekarang aku kuliah diUniversitas yang sangat bergengsi diJepang, perasaan gugup mulai menjalari tubuhku tatkala berada didepan teman-temanku,  kurasakan beberapa pasang mata menatap lurus kearahku.
Introduce yourself ” ujar dosenku, aku berusaha tenang dengan menarik nafas
Hello my name is  Aizawa Vingki, I’m from Indonesia, nice too meet you all”. Aku menunduk sebagai tanda penghormatan. Huftt perasaanku sangat lega setelah aku menghampiri tempat dudukku, sekarang aku resmi telah terdaftar diUniversitas Gifu.
                Akhirnya kelas pun selesai “arigato gozaimasu, serentak kami menjawab. Aku segera menuju atap untuk memakan bekal makan siangku, saat tengah asik menikmati makan siang, aku mendengar bunyi pintu berderit, aku menoleh dan melihat seorang laki-laki berjalan kearahku. “apa yang kamu lakukan sendirian disini?” tegurnya
lunch” jawabku singkat  “kenapa tidak makan dikantin saja” tanyanya lagi
 “aku tidak terlalu suka dengan keramaian kantin”
“apakah aku bisa duduk?”
“silahkan” semua peranyaanya kujawab dengan singkat, tapi entah mengapa lama kelamaan aku merasa nyaman saat berbicara dengannya dan kadang-kadang aku juga tertawa melihat tingkahnya yang sedikit terlihat foolish.
***
Tak terasa sudah hampir satu semester aku berada diJapan, dan disini aku sudah memiliki banyak teman, dan tentunya seseorang yang spesial, dia adalah Kazagawa Ryu seorang mahasiswa Fakultas Teknik, kami mulai dekat tepat sebulan aku menjadi mahasiswa di Gifu University, dia juga membantuku untuk mengenal jepang lebih dekat.
Pukul 09.00 pm
                Hari ini tugas dari kampus cukup banyak ditambah lagi praktek yang tidak ada hentinya. Kurebahkan punggungku yang terasa kaku, begitu juga dengan kedua temanku. Akhir semester pertama yang cukup menguras tenaga dan fikiran, tiba-tiba phonsel ku berbunyi.
I takatta and Zutto isshoo ni itai” aku tersenyum membaca E-mailnya
Me too, kenapa belum tidur?”
“ Sedang mengerjakan tugas untuk uji coba besok, kalau kamu?”
“Sama baru selesai mengerjakan tugas, kalau begitu aku tidur duluan ya, jangan tidur malam-malam besok telat lagi datang kekampusnya. See you in We are dream “
“Wakatta, aishiteru“ aku membalasnya dengan emoticon. aku tidak menyangka semua akan terjadi secepat ini, tapi aku percaya semua rencana-Nya akan ada hikmah serta akan indah pada waktunya.
                Saat jam makan siang seperti biasa aku dan Ryu makan bersama di loteng kampus, kali ini aku membawa bekal onigiri, makanan khas jepang yang dibetuk dari nasi yang dikepalkan dan dibugkus dengan nori atau kita bisa menyebutnya rumput laut, tapi hari ini aku melihat sesuatu yang aneh pada diri Ryu, dia terlihat sedikit pucat “Apa kamu sakit?” seraya kumemegang keningnya
“Tidak apa-apa mungkin kecapekan karna sering bergadang”. Aku tau kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu, tak berapa lama saat kami mulai melanjutkan makan siang, tiba-tiba sebuah cairan kental menetes melalui hidungnya, aku panik dan dia segera meraih tissu mengusap darah yang masih mengalir dihidungnya.
“Kan aku sudah bilang jangan sering bergadang, begini kan jadinya terus yang merasakan sakitnya siapa? kamu sendirikan, harusnya kamu itu sayang sama tubuh kamu.” Aku mulai kesal, bukannya aku protektif tapi aku tidak suka dengan orang yang tidak menyayangi kesehatannya.
“Iya maaf, lain kali tidak akan terjadi lagi kok” ucapnya seraya menepuk kepalaku, tapi aku sudah terlanjur kesal.
“Jangan marah ya, aku janji akan jaga kesehatan, yaudah biar kamu nda marah lagi, bagaimana kalau nanti malam kita jalan kefestival lampion” ajaknya, saat mendengar lampion hatiku sedikit terbujuk, dia tau aku sangat menyukai lilin balon yang pembawa semua impian dan harapan seseorang keangkasa itu.
“Serius, kamu nda sedang bohongkan?”
“Apa aku terlihat sedang bercanda?” ucapnya seraya menatap lurus kearahku, aku menggeleng dan kemudian tersenyum. Tepat pukul tujuh malam dia menjemputku didepan pintu asrama, aneh sepertinya malam ini sangat istimewa dia menjemputku dengan mobil mewah, dia berpenampilan layaknya seorang pangeran dan juga memperlakukanku seperti seorang putri.Festival kali ini sungguh indah banyak lampion yang berterbangan dilangit seperti bunga-bunga yang terbang tertiup angin. Dia mengajakku makan disebuah kafe ala korea, dia memesan jajjangmyung mie hitam dan cemilan ala korea yang kita kenal sebagai kue beras pedas. Malam ini benar-benar istimewa, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, aku mengajaknya pulang karena taklama lagi gerbang asrama akan ditutup.
“Terimakasih untuk hari ini, aku sangat senang sekali”  ucapku riang, tapi dia meresponku dengan tatapan yang tak dapat kumengerti, dia menghela nafas dan berkata
“ Vingki, sebenarnya ada yang ingin aku katakan, tapi aku bingung aku harus memulainya dari mana, sebenarnya aku sayang sama kamu tapi aku rasa aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi karena mulai besok aku akan pindah ke Tokoushima, maafkan aku jika selama kebersamaan kita aku menjadi orang yang menjengkelkan, semoga hidupmu menjadi lebih baik, sayonara Aizawa Vingki” dia mencium keningku, belum sempat kuberkata-kata dia segera pergi dan meghilang ditelan kegelapan malam. Tinggal aku yang berdiri mematung didepan gerbang. Malam yang indah tapi sedih untuk kisah cintaku.
                Pagi harinya aku menuju kampus dengan mata yang sembab ditambah dengan lingkaran panda disekitarnya. Saat digerbang kampus aku berpapasan dengan Ryu, saat aku menyapanya dia melewatiku tanpa menoleh, aku segera berbalik dan menahannya.
“Ada apa dengan mu, are you serious about tonight, look at me Ryu” aku bertanya dengan menahan air mata
“Lepaskan aku Vingki, iya aku serius dan hubungan kita sudah berakhir tadi malam” jawabnya dingin
“Tapi aku belum memutuskannya”
“Apa lagi yang perlu diomongin Vi, aku sudah capek sama kamu yang terlalu over protektif sama aku, harus jaga inilah, jaga itulah I’m not high school yang perlu kamu awasi 24 jam, mulai sekarang lupakan tolong lupakan” nada suaranya mulai meninggi dan berjalan meninggalkanku
“Maafkan aku, aku tidak mau kita putus, aku sayang sama kamu” teriankku dengan suara yang parau. Akhirnya airmata yang kubendung sejak tadi tumpah, aku berharap dia akan berbalik dan mengatakan kalau semua itu hanya bualan belaka, tapi yang kuharapkan tidak sesuai dengan kinginanku, dia pergi meninggalkanku.
***
Beberapa bulan kemudian memasuki musim dingin. Diluar tampak anak-anak membuat boneka-boneka salju, senang rasanya melihat raut mereka yang tanpa beban tertawa dengan riangnya. Tiba-tiba seorang anak kecil datang dan memberiku setangkai bunga mawar merah, melihat raut wajahku yang bingung, anak kecil itu menunjuk seorang laki-laki yang berdiri didekat pohon. Aku perlahan mendekatinya aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat, apakah ini dia?
“Long time no see Aizawa Vingki” dia menatapku dengan bola matanya yang hitam, aku bingung apakah aku harus menangis,bahagia,ataupun marah melihat seseorang yang tengah duduk didepanku saat ini,aku ingin marah jika teringat saat dia meninggalkanku dan hilang tanpa kabar, tapi kemarahan itu sirna saat melihat keadaannya saat ini, dia benar-benar berbeda dengan orang yang dulu kukenal.
“Ryu?”tanyaku dengan ragu-ragu
“Iya, ini aku” dia menjawab dengan suara lirih, aku mendekat dan duduk disampingnya, apa yang harus kukatakan?, hatiku berbicara.  Beberapa saat kami duduk dalam diam.
“bagaimana kabarmu?”
“seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja” wajah yang pucat itu kini tersenyum manis kearahku, tapi aku tau itu hanyalah sebuah topeng yang ia tunjukkan kepadaku.
“Bagaimana kabarmu, gimana dengan kuliah?” tanyanya lagi
kabarku baik, kalau soal kuliah lancar, makin banyak tugas dan praktek” dia menganggukkan kepala mendengar penjelasanku. “Vi” panggilnya, aku menoleh kearahnya.
“Apakah kamu mau berjanji padaku?” “berjanji?” ulangku, dia menganggukkan kepala, “Berjanji apa?” tanyaku dengan raut wajah binggung.
“Aku mau kamu berjanji, kamu akan wisuda dengan nilai terbaik dan menjadi dokter yang profesional, tidak ada alasan khusus aku hanya ingin mendengarnya dari bibirmu” dengan wajah binggung aku menurutinya, setelah itu dia tersenyum.
“Sekarang aku lega walaupun harus pergi” ujarnya, entah mengapa mendengar kata pergi itu membuat hatiku sakit.
“Memangnya kamu mau pergi kemana?” tanyaku, aku berusaha untuk mengatur suaraku agar tidak terdengar bergetar.
“Maafkan aku Vingki, telah aku harus kembali, karena mama dan papa mau menjenguk nenek yang sakit. Jadi aku tidak bisa berlama-lama disini aku menitipkan ini kepadamu, berikan padaku jika kamu sudah menuliskan balasannya, tapi seandainya kamu tidak sempat untuk mengembalikan kamu bisa memilikinya” ucapnya seraya, dia beranjak pergi setelah menyerakan sebuah buku yang mirip dengan diary. Aku hanya bisa menatap punggung yang terlihat rapuh itu dengan berlinang air mata, entah mengapa aku merasa kalau kami tidak akan bertemu lagi.
                Saat tiba diasrama aku membaca setiap untaian kata yang ia torehkan disetiap lembar dengan penuh ungkapan kerinduan,kesedihan,cinta dan semua yang ada dihatinya, tak terasa bulir-bulir bening mulai membasahi pipiku, aku mengetahui satu kenyataan bahwa ia adalah seorang laki-laki yang duduk tepat disampingku saat berada dipesawat dan ternyata takdir telah mempertemukan dan mempersatukan kita dengan cinta. Dilembaran terakhir tertulis. ”Kamu harus menepati janjimu, karena saat kamu telah menepati janjimu maka aku akan datang. Kamu hanya perlu membalasnya dengan menunjukkan hasilnya padaku.” Aku menangis tersedu-sedu, tapi dalam hati kecilku berkata aku berjanji akan memenuhi janjiku dan menjukkannya kepadamu, agar aku dapat melihat senyuman bangga diwajahmu
***
                “Vingki buruan nanti kamu terlambat lagi” seru Tima teman sekamarku, “Iya” jawabku seraya berteriak, hari ini adalah hari wisuda kami tak terasa dengan bergulirnya waktu sampailah kami dipenghujung pembelajaran, aku juga tidak sabar untuk memperlihatkan hasilku ini kepada Kazegawa Ryu serta kembali dan mengabdi ditanah air tercinta Indonesia. Acara kali ini berjalan dengan lancar, Saat perjalanan pulang aku merasa seperti ada seseorang yang mengikutiku, atau mungkin hanya perasaanku saja batinku. Belum berapa lama aku berada dikamar, seseorang mengetuk pintu kamarku dan menyerahkan sepucuk surat tanpa nama pengirim, segera kubuka amplop itu berisi sebuah foto saat aku dan Ryu difestival lampion kami terlihat bahagia saat itu,dengan tangan bergetar kubaca kata demi kata yang ia tulis.
hai Aizawa Vingki selamat ya atas wisudanya, kamu pasti sekarang lagi bahagia karna kamu sudah berhasil menepati janjimu, aku percaya sama kamu kalau kamu pasti akan berhasil tapi, maafkan aku ya tidak bisa menemuimu dan merayakan hari bahagia ini bersamamu karena mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi bersamamu didunia ini, tapi aku akan selalu bersamamu dimanapun kamu berada, aku mederita leukimia setadium akhir maaf aku tidak memberi taumu tentang keadaanku karena aku tidak mau kamu bersedih, aku ingin kamu selalu tersenyum dan membagi kebahagiaan kepada semua orang, karena dengan melihat kamu selalu tersenyum itu sudah cukup untukku. Harapan terakhirku aku ingin kamu menjadi bunga yang selalu terlihat segar. sekali lagi maafkan aku ya, Aishiteru Aizawa Vingki”
Kazegawa Ryu

Aku membaca surat itu dengan air mata bercucuran, apakah aku tidak sedang bermimpi menerima sepucuk surat dari Kazegawa Ryu dihari bahaga ini dan memberitahukan tentang kematiannya, hatiku benar-benar sangat sedih hingga aku tidak bisa berkata-kata lagi. Hari kebahagianku juga hari yang sangat menyedihkan bagiku. Keesokan harinya aku dan kedua temanku berziarah kemakam, terlihat gundukan tanah yang tampak baru, kutaburkan bunga dan tak lupa kupanjatkan doa agar dia tenang dialam sana. aku menutup kedua mataku dan berujar.
 “Apa kabar Ryu, aku datang untuk menjengukmu, aku datang ingin menunjukan kalau aku telah berhasil  menepati janji yang telah kita buat dua tahun lalu, aku telah menjadi seorang dokter, juga lulus dengan nilai terbaik, aku juga ingin pamit kalau hari ini aku akan berangkat kembali ke Indonesia,” mataku mulai terasa lembab, tiba-tiba air mataku menetes dengan sendirinya, aku masi tidak percaya kalau Kazegawa Ryu telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. tiba-tiba aku merasa seperti ada siluet yang memelukku dari belakang dan berujar “aku akan selalu ada didekatmu, Aishiteru Vingki, arigato ne” berlahan-lahan pelukan itu menghilang bagaikan hembusan angin, masih dapat kurasakan pelukan yang ia tinggalkan terasa hangat dibahuku, perlahan-lahan kubuka kedua mataku,
“Selamat tinggal Kazegawa Ryu, semoga kamu tenang dialam sana.” Aku letakkan sebuket bunga mawar merah dan foto wisudaku. Aku berharap dia senang dan tersenyum melihat aku telah berhasil memenuhi janjiku.Aku berbalik dan meninggalkan tempat peristirahatannya yang abadi dan berjanji akan mengabulkan permohonan dari seseorang yang telah membuat hari-hariku lebih berwarna, saat menjadi mahasiswa diJapan yaitu menjadi seorang dokter yang professional , Kazegawa Ryu thank you for everything .

Penulis : Vingki Muliana Husain
Date : 22 November 2015